Selasa, 28 Januari 2014

Sedekah dan kaya?

Sedekah dan kaya? Adakah hubungannya?

Kalau anda memberikan pertanyaan tersebut 20 tahun yang lalu, maka mungkin orang-orang akna menjawab bahwa tidak ada hubungannya antara kekayaan dan sedekah. Keyakinan yang tertanam waktu itu adalah hemat pangkal kaya. Orang akan bisa kaya kalau ngirit atau bahkan pelit. Kalau orang itu loyal, apalagi banyak sedekah, maka bisa dipastikan mereka tidak akan kaya.

Tapi kalau anda memberikan pertanyaan yang sama dalam beberapa tahun belakangan, maka pasti hampir sebagian besar mengatakan bahwa sedekah ada hubungannya dengan kekayaan. Masih ingat kan dengan posting saya sebelumnya tentang kisah sedekah televisi di suatu pagi? Beberapa hari yang lalu, salah seorang kawan yang datang ke rumah juga cerita tentang bisnis spreinya yang lancar gara-gara bersedekah pada program yang dilancarkan oleh UNICEF.

Jadi, mana yang bener? Hemat pangkal kaya atau sedekah pangkal kaya?

Jawaban yang paling tepat adalah: wallahu a'lam.

Beberapa hari yang lalu, saya terhenyak dengan status salah seorang sahabat saya yang luar biasa. Beliau sekarang adalah seorang kepala sekolah di sebuah sekolah Muhammadiyah di kaki gunung nun jauh di sana. Dalam kondisi lingkungan yang serba terbatas dan jauh dari kota, sebuah batu permata kehidupan justru terasah dengan sangat baik. Dalam sebuah komentar yang beliau tulis di status beliau, beliau mengatakan
Nabi kaya raya di waktu muda.. menjelang wafat, beliau ndak punya apa-apa..sampai menjual baju perang ke org yahudi. Bahkan setelah wafat, ndak punya tinggalan warisan. Hartanya berangsur habis setelah usia 40 (masa kerasulan). Jadi kalau berjuang kok masih kaya raya, berarti perjuangannya ndak totalitas. Ha ha ha...mengada ada.
Komentar beliau memang tidak ada hubungannya dengan sedekah. Komentar itu adalah tentang sebuah perjuangan yang tidak kenal lelah. Tapi komentar itu di sisi lain juga menyadarkan saya bahwa Rasulullah adalah  adalah orang yang sangat dermawan, sangat banyak sedekahnya, tapi tidak mempunyai harta yang beliau simpan, pun untuk beliau wariskan. Kalau melihat perintah dari Allah dalam QS Al Anfal ayat 1, maka seharusnya beliau berhak atas harta rampasan perang. Dalam seperlima harta rampasan dalam perang Hunain yang menjadi hak beliau, jumlahnya adalah 8000 ekor domba, 4800 ekor unta, dan 30 gram perak.

Kemana harta sebanyak itu? Ya Allah, beliau sedekahkan.

Jika kita pakai logika orang sekarang, maka seharusnya Rasulullah adalah orang yang sangat kaya. Banyak orang yang sedekah karena mengharapkan kembalian harta yang lebih banyak dari harta yang dia sedekahkan. Iming-iming yang diyakini adalah paling tidak satu satuan akan dibalas 10 satuan (atau lebih banyak lagi). Mereka sedekah 1 juta dengan mengharapkan suatu saat akan mendapat kembalian dari Allah sebanyak 10 juta. Dengan logika seperti ini, seharusnya Rasulullah adalah orang yang sangat kaya karena paling tidak akan mendapatkan kembalian sebanyak 80 ribu domba, 48 ribu onta, dan 300 gram emas. Tapi apa yang beliau punya? Bahkan ketika meninggal pun beliau hanya mempunyai sebuah rumah yang sangat kecil dan sederhana, beberapa potong pakaian yang tidak baru lagi, dan sebuah baju besi yang sedang dijaminkan pada seorang Yahudi.

Artikel di milis assunnah yang diambil dari dakwahsunnah.com tiga hari yang lalu memberikan jawaban baru tentang pertanyaan sedekah dan kaya ini. Dalam surat Al Baqarah 155-158, Allah berfirman bahwa Allah akan menguji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Di akhir ayat, Allah berfirman bahwa orang yang sabar, yang mengucapkan bahwa mereka adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya, akan mendapatkan tiga keutamaan sekaligus, yaitu (1) mendapatkan shalawat dari Allah, (2) rahmat Allah, dan (3) petunjukNya. Tidak pernah Allah mengumpulkan tiga keutamaan sekaligus dalam satu ayat kecuali dalam ayat ini. Ini menunjukkan bahwa cobaan adalah bagian dari jalan dari Allah untuk memuliakan seseorang.

Selain itu, dalam hadis Tirmizi no 2576 (dishahihkan oleh Al Albani), Rasulullah SAW bersabda
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridho, maka baginya keridhoan Allah, dan siapa yang murka dengan ujian tersebut, maka baginya kemurkaan Allah.
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda
Barangsiapa yang diinginkan Allah kebaikannya, maka Allah akan mengujinya
Orang yang bersedekah dengan ikhlas, maka secara logika dia adalah orang yang semakin mendekat kepada Allah. Jika Allah menginginkan kebaikan atas orang yang bersedekah tersebut, maka Allah akan mengujinya, dan ujian yang Allah berikan dalam ayat di atas adalah berupa kekurangan. Dengan ujian tersebut, Allah menjadikan seseorang memungkinkan mendapatkan pahala yang sangat besar (sesuai kadar beratnya musibah) dan mendapatkan tiga keutamaan sekaligus dengan kesabarannya.

Jadi? Sedekah dan kaya? Apakah ada hubungannya? Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar