Jumat, 21 Februari 2014

Itungan Prapatan

Di suatu sore di saat jalanan sangat ramai karena orang-orang yang  pulang kerja, ada beberapa orang yang mangkal di prapatan ring road jalan wonosari. Ada yang menggelar pertunjukan angklung dan ada yang menggelar topeng monyet. Sambil memperhatikan mereka, saya iseng-iseng ngitung berapa potensi pendapatan mereka.

Dengan asumsi bahwa lampu hijau di setiap sisi jalan menyala selama 20 detik, maka berarti kendaraan akan berganti setiap menit. Dengan asumsi bahwa setiap kali lampu merah menyala, hanya satu orang yang memberi sejumlah Rp. 500, maka dalam satu jam, uang yang didapatkan adalah sebanyak 500x60 = 30.000. Seandainya dia ngetem seharian selama 5 jam, maka jumlah uang yang didapatkan selama 5 jam tersebut adalah 30.000 x 5 = 150.000. Jika dia ngetem di sana setiap hari, maka jumlah uang yang didapatnya adalah 150.000 x 30 = 4.500.000. Wow... banyak juga ya, lebih banyak daripada gajiku. Hehehe... Itu saja asumsinya ngasihnya cuma 500 rupiah dan hanya 5 jam sehari. Kalau sekali lampu merah pada ngasih 5 ribu, maka jika sama ngetem 5 jam, maka per bulan bisa dapat 45 juta. Wow.... potensi pendapatan yang besar sekali... Hehehe... :D

Sekarang baru paham kenapa pengemis dan pengamen trus akhirnya jadi profesi orang, dan kenapa dulu pada protes ke Ridwan Kamil saat mereka direkrut untuk jadi tukang sapu jalan. Ah, tukang sapu jalan gajinya cuma berapa. Wong sama dosen aja gaji pengemis masih jauh lebih mendhing... :D

Sebagai penutup tulisan ini, ijinkan saya mengutip dua buah hadis

"Sungguh, seseorang dari kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya sehingga dengannya Allah menjaga wajahnya (kehormatannya), itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, mereka memberinya atau tidak memberinya" [Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 1471, 2075)].

 "Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya".[Muttafaqun ‘alaihi. HR al-Bukhâri (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (103))]

Wallahu a'lam bisshowaab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar